Rabu, 03 Oktober 2012
Cara Mencintai Bahasa Indonesia
Saya
sedikit iri bahwa bahasa China menjadi salah satu mata pelajaran
pilihan di tempat anak kami belajar, sebuah Gymnasium di Tuttlingen,
Jerman. Sekolah unggulan yang setara dengan SD kelas 6-SMA kelas 3 di
tanah air itu, ternyata berhasil menggaet banyak murid untuk
mempelajarinya dari tahun ke tahun. Belakangan, negeri itu sering
dijadikan tempat magang dan pertukaran pelajar pula. Mengapa China
menjadi favorit Jerman?
Untunglah
sifat iri saya itu tak berubah menjadi dengki karena justru ini semakin
memacu semangat saya untuk menggembleng kemampuan anak-anak kami dalam
berbahasa Indonesia di negeri rantau. Bahasa Indonesia adalah bahasa
yang dimiliki sekitar 250 juta penduduknya. Kalau tidak saya, ibunya
yang asli Indonesia yang mengajari, siapa lagi? Ayah bisa berbahasa
Indonesia dengan fasih tetapi ia lebih banyak menggunakan bahasa Jerman
dan bahasa Inggris. Meskipun demikian, saya bersyukur tetap bisa menjadi
sumber terdekat bagi anak-anak dalam mengasah bahasa Indonesia. Jangan
sampai saat mereka dewasa, menyesal tidak pernah mempelajari bahasa
nenek moyangnya.
Saya
mengakui bahwa keinginan mengajarkan bahasa Indonesia itu tak semudah
membalikkan telapak tangan. Selain bahasa Jerman yang menjadi bahasa
lokal, anak-anak kami (12, 6 dan 3 tahun) memang dibesarkan oleh dua
budaya (Indonesia dan Jerman). Anak yang pertama memang lancar tiga
bahasa (bahasa Jerman, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia), hanya yang
nomer dua dan tiga yang memang besar bahkan lahir di Jerman, masih dalam
tahap belajar.
Bagaimanapun,
saya bersyukur telah berhasil membujuk anak-anak untuk tetap memulai,
mencintai dan mempelajari bahasa Indonesia sejak dini. Salah satu cara
yang saya pakai adalah dengan menggunakan lagu anak-anak dari tanah air.
Tips ini mempercepat daya tangkap mereka dalam mempelajarinya. Lambat
tapi pasti, bahasa kita ini dikuasai mereka dengan riang gembira dan
diiringi irama.
Langganan:
Postingan (Atom)